ISRAEL in Bahasa Indonesia    
 
  Select Your Language:  
 
 
     
  Advanced search
  Search Tips
 
Home Page
 
Israel Missions
Homepage
 
Our bookmarks
 
Feedback
 
Ministry of Foreign
Affairs (English)
 
Ministry of Foreign
Affairs (Hebrew)

Jakarta - Home Page Add-Ons



(Click to enlarge)


Salam sejahtera!

Selamat datang di website Israel berbahasa Indonesia. Tujuan website ini untuk mendukung proses dialog dan saling pengertian di antara orang Indonesia dan Israel.

Kami menyadari dengan pengetahuan dan informasi yang lebih banyak tentang Israel akan membuat orang Indonesia mengerti lebih baik tentang Israel; masyarakat, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan, kesusasteraan dan keseniannya.

 

Kami mengerti tujuan utama membuka dialog ini dan membangun jembatan baru bagi pemahaman menuntut kemauan untuk saling memahami satu dengan lainnya, meski mungkin kadang kala kita tidak dapat selalu sejalan.

Karena itu kami mengundang anda menjelajahi Israel, mengenal masa lalunya dan keadaannya sekarang.

Anda bisa menghunbungi kami melalui press@singapore.mfa.gov.il  jika anda ada pertanyaan mengenai  situs kami.

 



Pidato PM Netanyahu di Universitas Bar-Ilan
Pengusiran, Pembantaian Massal dan Pemaksaan Pindah Agama / Kewarganegaraan
(Click to enlarge)

14 Jun 2009

Dalam visi perdamaian saya, kedua bangsa hidup dengan bebas, berdampingan, dalam susana persahabatan yang baik dan saling menghargai.

Masing masing akan memiliki benderanya sendiri, lagu kebangsaan sendiri, pemerintahan sendiri.    

 

Pidato oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Begin-Sadat (BESA) Center for Strategic Studies, Bar-Ilan University 

Yang terhormat para tamu dan seluruh rakyat Israel

 

Perdamaian sudah lama menjadi keinginan rakyat kita. Para nabi kita memberikan visi perdamaian, dan kita saling menyapa satu dengan yang lainnya dengan salam damai, serta kita mengakhiri doa-doa kita dengan kata-kata damai.

Kita berkumpul sore ini dalam sebuah institusi yang mengambil nama dari dua orang pelopor perdamaian , Menachem Begin dan Anwar Sadat, dan kita melanjutkan visi mereka.

Dua setengah bulan yang lalu, saya mengambil sumpah sebagai PM Israel. Saya berjanji untuk membangun sebuah pemerintahan nasional yang bersatu – dan saya melaksanakannya. Saya yakin dan saya masih sangat yakin bahwa persatuan menjadi sangat lebih penting bagi kita sekarang dibandingkan sebelumnya karena kita menghadapi tiga tantangan yang besar sekali – ancaman dari Iran, krisis ekonomi dan percepatan perdamaian.

Ancaman Iran sungguh besar bag kita, seperti yang semakin didemonstrasikan kemarin. Bahaya terbesar yang menghadang Israel, Timur Tengah, seluruh dunia dan seluruh umat manusia adalah hubungan antara Islam radikal dan senjata nuklir. Saya mendiskusikan dengan Presiden Obama selama kunjungan saya baru-baru ini ke Washington dan saya akan membahasnya kembali dalam pertemuan saya dengan para pemimpin Eropa minggu depan. Selama bertahun-tahun, saya telah bekerja tiada lelah mengarahkan aliansi internasional mencegah Iran mengembangkan senjata nuklirnya.

Menghadapi krisis ekonomi global, pemerintah bertindak dengan cepat untuk menstabilkan ekonomi Israel, Kita telah mengusulkan dua tahun masa penghematan dalam pemerintah – dan Knesset akan segera menyetujuinya.

 

Dan tantangan ketiga adalah, yang juga sangat penting, adalah percepatan perdamaian. Saya juga telah menyatakannya pada Presiden Obama, dan saya sangat mendukung gagasan regional damai yang dicanangkannya.

Saya sejutu dengan keinginan Presiden untuk membawa era rekonsiliasi baru di kawasan ini. Untuk hal ini, saya bertemu dengan Presiden Mubarak di Mesir dan Raja Abdullah di Yordania, untuk lebih mendapatkan dukungan dari para pemimpin ini mengenai perluasan lingkaran perdamaian di kawasan kita. Saya menemui para pemimpin Arab malam ini dan saya katakan : ”Mari kita bertemu. Mari kita berbicara untuk perdamaian dan marilah kita ciptakan perdamaian.” Saya siap bertemu dengan siapapun kapanpun. Saya bersedia melakukan perjalanan ke Damaskus, Riyadh, Beirut dan tempat manapun – termasuk Yerusalem.

Saya menyerukan pada negara-negara Arab untuk bekerjasama dengan Palestina dan bersama dengan kami memajukan perdamaian ekonomi. Perdamaian ekonomi ini bukanlah pengganti perdamaian politik, namun sebagai elemen yang penting untuk mencapainya. Bersama-sama, kita dapat melaksanakan proyek ini untuk menyelesaikan kekurangan di kawasan ini, seperti misalnya desalinasi air atau untuk memaksimalkan kelebihannya, misalnya pengembangan energi matahari atau membangun jalur gas dan minyak, dan transportasi yang menghubungkan antara Asia, Afrika dan Eropa.

Kesuksesan ekonomi negara-negara Teluk telah mengagumkan kita semua dan juga saya. Saya mengajak para pengusaha berhasil dari dunia Arab untuk datang dan berinvestasi di sini serta membantu Palestina – dan kami – mendorong ekonomi. Bersama, kita bisa mengembangkan area industri yang akan menciptakan ribuan pekerjaan dan pengembangan tempat-tempat wisata yang dapat menarik jutaan pengunjung yang ingin melakukan napak tilas sejarah di Nazaret dan di Betlehem, di sekitar tembok Yerikho dan tembok Yerusalem, di tepi Laut Galilea dan tempat pembaptisan di Sungai Yordan. Ada potensi yang begitu besar untuk turisme arkeologis, bila saja kita dapat belajar bekerjasama dan mengembangkannya.

Kepada anda, tetangga kami di Palestina, di bawah pimpinan Otorita Palestina, saya menyerukan: Mari kita segera memulai negosiasi tanpa prakondisi.

Israel mematuhi komitmen internasional dan berharap semua pihak juga menjaga komitmennya. Kami ingin hidup dengan damai, sebagai tetangga yang baik. Kami ingin anak-anak kami dan anak-anak Anda tidak lagi mengalami peperangan : bahwa orang tua, kakak dan adik tidak akan lagi mengalami kehilangan dari orang-orang yang dikasihinya di dalam pertempura; bahwa anak-anak kita dapat memperoleh masa depan yang lebih baik dan merealisasikan cita-citanya; dan bahwa dengan bersama-sama kita akan menginvestasikan kekuatan di mata bajak dan pisau penuai, bukan dengan pedang dan tombak.

Saya tahu benar tentang perang. Saya telah mengalami pertempuran. Saya kehilangan sahabat. Saya kehilangan saudara. Saya telah melihat begitu pedihnya keluarga yang kehilangan. Saya tidak menginginkan perang. Tidak ada seorangpun di Israel menginginkan perang.

Bila kita berjabatan tangan dan bekerjasama untuk perdamaian, tidak ada batasan bagi pengembangan dan kesejahteraan yang akan dapat dicapai oleh kedua bangsa – dalam ekonomi, pertanian, perdaganagan, pariwisata dan pendidikan – dan lebih pentingnya, upaya menyediakan dunia yang lebih baik untuk tinggal anak cucu, hidup yang penuh ketenangan, kreativitas, kesempatan dan harapan.

Bila keuntungan perdamaian itu sudah begitu jelasnya, mestikah kita bertanya mengapa perdamaian begitu jauh bahkan tangan kita tetap terjulur untuk mencapainya ? Mengapa konflik ini berlangsung terus untuk lebih dari 60 tahun ?

Untuk mengakhiri konflik, kita harus memberi jawaban jujur dan terus terang atas pertanyaan : Apakah akar dari konflik ini ?

Dalam pidatonya pada Konferensi Zionis pertama di Basel, pendiri gerakan Zionis, Theodore Herzl, mengatakan tentang rumah nasional orang Yahudi “Pemikiran ini sangat besar sehinggak kita mesti membicarakannya hanya dengan istilah-istilah yang paling sederhana.” Sekarang, saya akan mengutarakan tentang tantangan besar mengenai perdamaian dengan kata-kata yang paling sederhana.

Meskipun saat kita memandang cakrawala, kita mestinya sangat terhubung pada kenyataan, pada kebenaran. Dan kebenaran sebenarnya adalah bahwa akar dari konflik dan tetap sampai sekarang, penolakan akan hak orang Yahudi untuk memiliki negerinya sendiri, di kampung halamannya yang bersejarah.

Di tahun 1947, saat PBB mengajukan rencana pemisahan Negara Yahudi dan Negara Arab, seluruh dunia Arab menolak resolusi itu. Namun demikian, komunitas Yahudi, menyambutnya dengan tarian dan kesukaan. Arab menolak negara Yahudi, di batas manapun.

Mereka yang terus berpikir bahwa permusuhan terhadap Israel merupakan hasil dari kehadiran kami di Yudea, Samaria dan Gaza, membingungkan penyebab dan konsekuensinya. Serangan terhadap kami mulai di tahun 1920, meningkat menjadi serangan besar di tahun 1948 dengan deklarasi kemerdekaan Israel, diikuti dengan serangan fedayeen di tahun 1950, dan puncaknya di tahun 1967, menjelang Perang Enam hari, dalam upaya mengencangkan sebuah simpul di leher Negara Israel. Semuanya ini terjadi selama lima puluh tahun sebelum satu tentara Israel pernah menginjakkan kakinya di Yudea dan Samaria

Untungnya, Mesir dan Yordania meninggalkan lingkaran perseteruan ini. Penandatanganan kesepakatan telah mengakhiri tuntutan mereka terhadap Israel, dan mengakhiri konflik. Tetapi yang kami sesalkan, hal seperti ini tidak terjadi dengan Palestina. Semakin dekat kami pada kesepakatan dengan mereka, semakin mereka mundur dan menaikkan tuntutan yang tidak konsisten dengan keinginan sesungguhnya untuk mengakhiri konflik.

Banyak orang menasehati kami untuk mundur dari kawasan ini sebagai kunci untuk perdamaian dengan Palestina. Dan kami mundur. Namun kenyataannya adalah setiap mundurnya kami disambut dengan gelombang terror besar-besaran, dengan bom bunuh diri dan ribuan misil-misil.

Kami mencoba mundur baik dengan kesepakatan maupun tanpa kesepakatan. Kami mengusahakan penarikan mundur sebagian dan penarikan mundur total. Di tahun 2000 dan juga di tahun lalu, Israel mengajukan hampir penarikan mundur untuk ditukar dengan diakhirinya konflik, dan dua kali tawaran kami ditolak. Kami mengevakuasi setiap titik terakhir di Jalur Gaza, mengalihkan puluhan pemukiman dan memindahkan orang Israel dari rumahnya, dan sebagai balasannya, kami mendapatkan hujan misil di kota-kota kami.

Klain bahwa penarikan mundur dari kawasan akan mendatangkan perdamaian dengan Palestina, atau paling tidak mempercepat perdamaian, sampai saat ini tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam hal ini malahan Hamas di utara dan Hizbullah di selatan, berulangkali memproklamasikan untuk ”membebaskan” kota-kota di Israel yaitu Ashkelon, Beersheba, Acre dan Haifa.

Palestina belum siap mengungkapkan bahwa : Israel adalah negara-bangsa orang Yahudi, dan akan tetap demikian adanya.

 

Menggapai kemerdekaan akan memerlukan keberanian dan ketulusan dari kedua elah pihak, dan bukan hanya dari pihak Israel saja. Para pemimpin Palestina harus bangkit dan berkata “Cukup dengan konflik ini, Kami mengakui hak orang Israel untuk bernegara di tanahnya sendiri, dan kami bersedia untuk hidup berdampingan didalam perdamaian sebenarnya.  

Kami merindukan saat-saat tersebut, saat pemimpin-pemimpin Palestina mengatakan hal tersebut kepada rakyat kami dan rakyat mereka, dengan sebuah jalur akan dibuka untuk menyelesaikan pelbagai masalah, antara kedua bangsa, tak perduli bagaimanapun rumitnya masalah tersebut. Oleh karena itu prasyarat mendasar untuk mengakhiri konflik adalah pengakuan Palestina secara terbuka, mengikat dan tegas bahwa Israel adalah negara orang Yahudi. Secara praktis hal ini berarti, pengertian yang jelas bahwa masalah pengungsi Palestina akan diselesaikan diluar batas Israel. Karena itu dengan jelas keiniginan untuk mengembalikan pengungsi Palestina mengabaikan keberadaan Israel sebagai negara bagi orang Yahudi.    

Masa pengungsi Palestina harus diselesaikan, dan hal itu dapat diselesaikan, seperti juga kami telah membuktikan dalam situasi yang sama. Israel yang kecil dapat menyerap puluhan ribu pengungsi yang telah meninggalkan rumah dan miliknya di negara-negara Arab. Karena itu, cukup adil dan masuk akal bila penyelesaian pengungsi Palestina diselesaikan di luar batas wilayah Israel. Hal ini merupakan kesepakatan nasional. Saya percaya bahwa dengan ketulusan dan bantuan internasional, masalah kemanusiaan ini dapat diselesaikan secara tetap. 

Selama ini saya menyuarakan tentang keharusan Palestina untuk mengakui hak-hak kita. Saat ini saya juga akan berkata secara terbuka keharusan kita untuk mengakui hak-hak mereka. Tetapi sebelumnya saya katakan bahwa hubungan antara orang Yahudi dengan Tanah Israel telah bertahan selama lebih dari 3500 tahun. Yudea dan Samaria, tempat dimana Ibrahim, Ishak dan Yakub, dan Yesaya dan Yeremia hidup, bukan sesuatu yang asing. Ini adalah tanah nenek moyang kami. 

Hak untuk orang Yahudi untuk bernegara di tanah Israel bukan karena bencana yang mendera bangsa kita. Memang selama 2000 tahun orang Yahudi menderita atas pengusiran, pogroms, fitnah keji, dan pembunuhan massal yang berpuncak pada Holocaust – sebuah penderitaan yang tidak ada padanannya di dalam sejarah manusia. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa bila Holocaust tidak terjadi, negara Israel tidak akan pernah berdiri. Tetapi saya katakan bahwa apabila negara Israel telah berdiri sebelumnya, maka Holocaust tidak akan pernah terjadi.

Sejarah tragis tanpa memiliki pertahanan menjelaskan mengapa orang Yahudi membutuhkan kekuatan yang berdaulat untuk membela diri. Tetapi hak kita untuk membangun negara berdaulat di sini, muncul dari kenyataan sederhana bahwa ini adalah tanah air orang Yahudi, di sinilah identitas kita dibangun.

Sebagai Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion menyatakan di dalam Deklarasi Kemerdekaan Israel:” Bangsa Yahudi lahir di tanah Israel dan di sinilah ciri-ciri spiritual dan politis dibentuk. Di sinilah mereka memperoleh kedaulatan, dan di sini mereka mewariskan pada dunia harta dan budaya nasional mereka, dan buku yang paling abadi.”

Namun kita juga harus menceritakan kebenaran secara lengkap, di dalam tanah air ini telah tinggal sejumlah besar orang Palestina. Kami tidak ingin berkuasa atas mereka, kami tidak ingin memerintah kehidupan mereka, kami tidak ingin menanamkan bendera kami ataupun budaya kami pada mereka.

Dalam visi perdamaian saya, di dalam sebidang tanah kita yang kecil, dua bangsa hidup secara bebas, berdampingan, di dalam kedamaian dan saling menghargai. Masing-masing akan memiliki bendera, lagu nasional, dan pemerintahan sendiri. Keduanya tidak saling mengancam keamanan maupun keberadaannya masing-masing. 

Saya telah datang malam ini untuk memberikan pendapat tentang persatuan itu, dan karena prinsip perdamaian dan keamanan telah disepakati oleh masyarakat Israel secara luas. Ini adalah prinsip yang mengarahkan kebijakan kita. Kebijakan ini juga memperhitungkan situasi internasional yang berkembang baru-baru ini. Kita harus mengakui kenyataan ini dan pada saat yang sama berpegang teguh pada prinsip-prinsip utama Israel.

Saya telah menekankan prinsip utama –pengakuan. Palestina harus secara jelas dan tidak bimbang untuk mengakui Israel sebagai  negara orang Yahudi.

Prinsip kedua adalah bebas militer. Daerah di bawah kontrol Palestina haruslah daerah bebas militer dengan kendali keamanan untuk Israel. Tanpa kedua kondisi ini, selalu ada ketakutan bahwa negara Palestina bersenjata akan bangkit menjadi basis teroris melawan negara Yahudi, seperti yang terjadi di Gaza. Kami tidak ingin roket Kassam atas Petach Tiva. Grad roket atas Tel Aviv, atau misil terhadap lapangan udara Ben-Gurion. Kami ingin damai. 

Agar dapat mencapai kedamaian, kita harus memastikan bahwa Palestina tidak dapat memasukkan senjata misil kedaerah mereka, membangun militer, menutup wilayah udara terhadap kita, atau membuat perjanjian dengan Hizbullah dan Iran. Hal ini telah disepakati secara luas di Israel. Tidak mungkin kami menyetujui sebuah negara Palestina tanpa jaminan bahwa negara ini bebas militer. Untuk masalah penting terhadap keberadaan Israel, kita harus terlebih dahulu mendapatkan jaminan atas kebutuhan keamanan kita. 

Karena itu, hari ini kami meminta teman-teman kita di komunitas internasional, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, apa yang menjadi kebutuhan utama keamanan Israel. Komitmen jelas bahwa di daerah di bawah kontrol Palestina merupakan wilayah bebas militer: tanpa pasukan, tanpa angkatan udara, dan dengan pengawasan efektif untuk mencegah penyelundupan senjata kedaerahnya, pengawasan sebenarnya, dan bukan apa yang terjadi di Gaza sekarang. Dan tentunya Palestina tidak diperbolehkan melakukan perjanjian militer dengan negara lain. Tanpa hal ini cepat atau lambat, daerah ini akan menjadi Hamas lainnya. Dan hal itu tidak dapat diterima.

Saya mengatakan kepada Presiden Obama ketika saya di Washington bahwa bila kita setuju akan intinya, maka peristilahan tidaklah penting. Dan inilah inti-inti yang saya nyatakan secara jelas. 

Kalau kita memperoleh jaminan mengenai daerah bebas militer dan kebutuhan keamanan Israel, dan jika Palestina mengakui Israel sebagai Negara orang Yahudi, maka kita akan siap untuk perjanjian damai di masa yang akan datang untuk mencapai penyelesaian di mana daerah bebas militer Palestina berdampingan dengan Negara Yahudi.

Mengenai masalah penting lainnya yang akan dirundingkan sebagai bagian dari penyelesaian akhir, posisi saya sudah jelas: Israel memerlukan batas pertahanan dan Yerusalem tetap merupakan kota Israel dengan kebebasan beragama untuk semua kepercayaan. Pertanyaan territorial akan didiskusikan sebagai bagian dari perjanjian damai tahap akhir. Sementara ini, kami tidak bermaksud untuk membangun pemukiman baru atau memperluas pemukiman yang telah ada.

Namun ada kebutuhan untuk mengembalikan penduduk ke kehidupan normal, untuk memberikan para orangtua kesempatan untuk membesarkan anak-anak mereka. Pemukim tersebut bukanlah musuh orang-orang atau perdamaian. Melainkan mereka adalah bagian integral dari kita, para perintis yang berprinsip dan rakyat Zionis.

Persatuan di antara kita sangat penting dan akan membantu kami mencapai rekonsiliasi dengan para tetangga. Rekonsiliasi yang harus sudah dimulai dengan mengubah realitas yang ada. Saya percaya bahwa ekonomi Palestina yang kuat akan memperkuat perdamaian.

Apabila Palestina berbalik ke arah perdamaian – dalam memerangi terror, memperkuat pemerintahan dan menerapkan hukum, dalam mendidik anak-anak mereka untuk kedamaian dan menghentikan kebencian terhadap Israel – kami akan melakukan segala usaha untuk meberikan kemudahan bergerak dan akses, dan memungkinkan mereka membangun ekonominya. Semua ini akan mendorong perjanjian damai di antara kita.

Di atas semuanya, Plastina harus memutuskan antara jalan damai atau jalan Hamas. Otoritas Palestina harus mampu menerapkan hukum di Gaza dan mengatasi Hamas. Israel tidak akan duduk dan bernegosiasi dengan mereka yang menghendaki kehancurannya. Hamas juga tidak mengizinkan Palang Merah untuk mengunjungi tentara yang diculik Gilad  Shalid, yang menghabiskan waktu 3 tahun dalam tahanan, terpisah dari orangtuanya, keluarga dan orang-orangnya. Kami berkomitmen untuk membawanya pulang ke rumah sehat dan aman.

Dengan kepeminpinan Palestina yang berkomitmen damai, dengan partisipasi aktif dunia Arab dan dukungan Amerika, dan komunitas Internasional, tidak ada alasan kita tidak dapat mencapai terobosan dalam perdamaian.

Orang kami telah membuktikan bahwa kita dapat melakukan hal-hal yang tidak mungkin. Selama kurun waktu 61 tahun, ketika kita secara terus menerus mempertahankan keberadaan kita, kita menunjukan berbagai kejutan.

Mikrochip kita menjalankan komputer-komputer dunia. Obat-obat kita merawat penyakit yang dipandang tidak dapat disembuhkan. Irigasi tetes kami membuat tanah kering kembali menghasilkan. Para ilmuwan Israel mengembangkan ilmu pengetahuan. Kalau saja para negara tetangga menanggapi seruan kami – perdamaian akan dapat segera dicapai.

Saya menyerukan pada para pemmpin dunia Arab dan Palestina, mari kita bersama-sama melanjutkan jalur yang dirintis Menahem Begin dan Anwar Sadat, Yitzhak Rabin dan Raja Hussein. Mari kita wujudkan visi nabi Yesaya, yang 2700 tahun lalu di Yerusalem berkata : bangsa-bangsa ini janganlah saling mengangkat senjata, dan jangan ada lagi peperangan.”

 Allah akan menolong, kita tidak akan lagi berperang. Kita akan berdamai.

 


Mendukung Pembangunan Kapasitas Palestina:

Upaya Israel Mendukung Ekonomi Palestina, Reformasi Keamanan dan Hubungan Penduduk Sipil

Laporan Pemerintah Israel pada Komite Ad Hoc – Oslo 7-8 Juni 2009


Pendahuluan

Membangun dan memperkuat ekonomi Palestina dan pembangunan kapasitas Palestina adalah tantangan yang dihadapi Otorita Palestina, komunitas internasional dan Israel.

Israel menyadari pentingnya dukungan internasional untuk proyek di Tepi Barat di kawasan pengembangan ekonomi, pembangunan kapasitas dan keamanan serta sekitor sipil. Komunitas internasional berperanan penting dalam pembentukan, melalui bantuannya, langkah-langkah proyek pembangunan kapasitas ini dirancang dan diimplementasikan de facto dan bagaimana institusi Palestina terbentuk. Israel mendukung usaha yang dilakukan oleh komunitas internasional untuk mendukung pembangunan Palestina.

Laporan ini memperlihatkan serangkaian langkah dan tindakan yang diambil Israel selama tahun 2008 dan triwulan pertama di tahun 2009, yang ditujukan pada promosi dan peningkatan ekonomi Tepi Barat, sejalan dengan keamanan bangunan dan kapasitas lainnya. Pengukuran ini telah dilaksanakan secara parallel dengan usaha diplomatik dan ekonomi yang dilaksanakan oleh komunitas internasional, tanpa melupakan resiko keamanan yang diluncurkan terus menerus oleh aktivitas teroris Palestina terhadap penduduk sipil Israel.

Laporan ini juga secara ringkas menjelaskan situasi di Gaza, dalam konteks Operation Cast Lead dan tindakan Israel untuk mendukung usaha komunitas internasional untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan. Israel melakukan tindakan mendukung usaha-usaha ini meskipun Gaza adalah daerah yang penuh kekerasan yang dikuasai oleh Hamas, sebuah organisasi teroris yang didukung oleh Iran, yang akan berlangsung terus sebagai ancaman keamanan bagi ratusan ribu warganegara Israel. Perlu juga dipublikasikan bahwa Hamas masih menahan tentara Israel Gilad Salit sebagai tahanan.

Laporan ini memberikan ulasan bagaimana Israel membantu mengembangkan kapasitas Palestina dalam 3 bidang utama : ekonomi, keamanan dan kerjasama sipil.

Bab 1 menyediakan ulasan kondisi ekonomi di Tepi Barat, upaya Israel untuk meningkatkan ekonomi Tepi Barat, sejalan dengan inisiatif kerjasama ekonomi bilateral.

Bab 2 memberikan informasi mengenai upaya pembangunan kapasitas dari dunia internasional dan Israel dalam sektor keamanan, dan langkah-langkah yang ditempuh Israel untuk meringankan gerakan dan batasan akses.

Bab 3 menjelaskan kerjasama bilateral Israel dan Palestina dalam sektor sipil.

Akhirnya, bab 4 membahas upaya Israel untuk mendukung dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan di Jalur Gza dalam konteks Operation Cast Lead

Laporan selengkapnya telah disertakan pada email ini.



Deputi Menlu dalam hal pengakuan Israel sebagai negara Yahudi

Deputi Menteri Luar Negeri Israel Danny Ayalon menjelaskan perlunya Israel mendapat pengakuan sebagai negara Yahudi dari Palestina

Ayalon menjelaskan bahwa hak orang Yahudi untuk menentukan nasibnya sendiri sudahlah jelas, Israel akan meminta kepemimpinan Palestina untuk menjelaskan pada rakyatnya dan menyatakan sikap yang jelas bahwa mereka perlu mengakui hak orang Yahudi untuk tinggal di tanah airnya yang bersejarah. Langkah ini sangat penting bagi kelangsungan proses perdamaian dan akan menjadi pertanda dari para pemimpin Palestina bahwa solusi dua negara adalah akhir dari tuntutan mereka.

 


 




Pernyataan Menlu Liberman pada konferensi pers bersama Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier

Pada konferensi pers yang diadakan pada hari Senin, 6 Juni 2009 di Yerusalem, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Avigdor Liberman menyatakan :

Pada pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Steinmeier, kami membahas masalah pertikaian bilateral di Timur Tengah dan hubungan antara Israel dan Otorita Palestina. Kami telah menjelaskan posisi kami mengenai Suriah.

Menlu Steinmeier mengadakan perjalanan ke Damaskus. Meskipun belum banyak penyelesaian, kami telah mencapai banyak pemahaman. Kami bersepakat bahwa Iran adalah penghalang utama perdamaian dunia, bukan cuma di Timur Tengah. Kami juga mendiskusikan masalah Korea Utara, serta masalah umum lainnya yang berkaitan dengan hal ini. Keinginan untuk  menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Timur Tengah mendapat penekanan. Kami tidak mencapai kesepakatan menyeluruh, namun pemahaman telah tercapai. Ini adalah pertemuan saya ketiga dengan Menlu Steinmeier dan saya yakin bahwa kami akan dapat mencapai pemahaman dan kesepakatan yang lebih baik.

Tanya : Apa pendapat Anda mengenai peranan Jerman ? Peran apa yang dapat dilakukan oleh Jerman dalam proses perdamaian, dan apa peran pentingnya ?

Menlu Liberman : Jerman memiliki fungsi yang sangat penting, baik di Timur Tengah dan di dunia internasional. Jerman merupakan salah satu negara penting yang juga ikut ambil bagian dalam dialog format 5+1, dan kehadirannya di Timur Tengah dalam politik serta ekonomi sangatlah berarti.

Pengaruh Jerman juga berdampak pada keputusan Uni Eropa, yang mengakibatkan aktivitasnya di Timur Tengah begitu positif. Jerman telah menolong kami di masa lalu dalam menyelesaikan masalah-masalah sulit, pertukaran tahanan dan juga informasi. Pengalaman kami di masa lalu dengan Jerman mengenai berbagai perselisihan di Timur Tengah juga sangatlah positif.

 



Berita-berita terbaru tentang Penanaman Modal di Israel
(Click to enlarge)

ISRAEL MEMBEBASKAN PENANAM MODAL ASING DARI PAJAK ASET PRIBADI 

 

Dalam penawaran untuk menarik lebih banyak modal global ke Israel, Departemen Keuangan telah mengumumkan bahwa penanam modal asing akan dibebaskan dari pajak atas investasi dana aset pribadi.

 

Saat ini penanam modal asing membayar pajak sebesar 15 persen untuk perorangan dan 25 persen untuk perusahaan atas keuntungan dari dana aset pribadi.

 

Menyadari pembebasan pajak atas investasi modal usaha secara signifikan meningkatkan penanaman modal di Israel, Departemen Keuanagan menyatakan harapannya mendapatkan respon yang sama darri investasi aset pribadi.

 

Saat ini terdapat 10 dana ekuitas swasta yang beroperasi di Israel dikombinasikan dengan total investasi sekitar $2,5 miliar.

 

Pembebasan dari pajak atas keuntungan dana aset pribadi ini diharapkan dapar menarik lebih banyak modal asing ke Israel, sehingga membantu meringankan kredit bermasalah, menambah lapangan pekerjaan, meningkatkan aktivitas pasar modal, mengurangi konsentrasinya, serta meningkatkan dan mempercepat kegiatan usaha ekonomi di Israel.

 

Persetujuan pembebasan ini adalah sesuai dengan undang-undang baru yang bertujuan untuk meningkatkan pembebasan pajak bagi investor asing, termasuk pembebasan atas keuntungan dari penjualan saham perusahaan Israel dan juga keuntungan dari investasi obligasi korporasi.

 

Israel Menduduki Peringkat ke-9 sebagai Negara yang paling inovatif menurut laporan EIU

 

Menurut laporan peringkat terbaru mengenai negara yang paling inovatif dari “Economist Intelligence Units”, Israel menduduki peringkat ke-9 sebagai negara yang paling inovatif di dunia pada tahun 2008, dan diprediksi akan semakin meningkat serta berhasil menduduki posisi ke 8 di antara tahun 2009-2013.

 

Indeks ini meranking 82 negara berdasarkan kapasitas inovasi dan prakiraan kinerja mereka melewati 2013. Peringkat baru ini menegaskan prakiraan hasil penelitian yang dilakukan tahun 2007. Prakiraan untuk 2009-2013 juga mempertimbangkan menurunnya kegiatan bisnis dan krisis ekonomi global yang berdampak buruk pada kemampuan inovatif jangka panjang suatu negara.

 

 

 

Menurut Economist, kekacauan finansial sekarang ini akan mempengaruhi inovasi di seluruh dunia dengan adanya pengurangan dorongan inovasi signifikan pada investasi dalam Penelitian dan Pengembangan, pengeluaran untuk training dan pendidikan, kualitas informasi dan infrastruktur teknologi komunikasi. Krisis ini juga akan berdampak negatif pada aspek lain yang mempengaruhi inovasi global, termasuk akses finansial bagi perusahaan-perusahaan, kondisi kewirausahaan dan stabilitas ekonomi dan politik.

 

Namun demikian, data terakhir menunjukkan, inovasi Israel terus melakukan inovasi didukung oleh aliran investasi langsung, yang hampir mencapai rekor lebih dari $10 miliar di tahun 2008. Pasar Israel juga merupakan tujuan yang diincar perusahaan-perusahaan sukses di dunia. Menurut media Israel, pada bulan Juni saja diharapkan ada kunjungan antara lain CEO Hewlett Packard Mark Hurd, Presiden Oracle dan CFO Safra Catz, CEO Dell dan Pendiri Dell Michael Dell, serta kepala arsitek perangat lunak di Microsoft Ray Ozzie.

 

Israel Menduduki Peringkat ke 20 pada Tes IMD Stress

 

“Tes Stres” ini bertujuan untuk menguji bagaimana “negara-negara dapat bertahan dan menunjukkan pertahanannya saat ada badai menyerang.”

 

International Institute for Management Development (IMD) yang berkantor pusat di Lausanne, Switzerland menambahkan “tes stres” pada IMD World Competitiveness Yearbook 2009 untuk memperhitungkan dampak krisis keuangan global di berbagai negara. Pada evaluasi tahun ini, Israel menduduki peringkat 20, disusul Jepang di peringkat ke-26, AS ke-28 dan Inggris ke-34.

 

“Tes stres ini menunjukkan bahwa negara-negara yang lebih kecil, yang berorientasi pada ekspor impor, dengan kestabilan dan ketahanan sosio-politik-lingkungannya lebih disiap untuk mengambil keuntungan langsung dari pemulihan,”papar Stephanie Garelli, direktur IMD World Competitivenes Center.

 

IMD menganalisa 329 variabel pengukuran yang dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu kekuatan ekonomi, efisiensi pemerintah, bisnis dan infrastruktur, serta mendudukkan Israel pada peringkat ke 24 dari 57 negara.

 

Morgan Stanley Menyarankan Berinvestasi di Israel

 

Morgan Stanley meningkatkan rekomendasinya untuk saham Israel menjadi “Overweight” dari “Equal Weight” yang, menurut definisi mereka artinya mereka mengadvokasi para investor menanamkan uangnya pada saham di pasar bursa Israel. Israel naik ke peringkat ke-3 dari urutan ke-9 pada peringkat yang dibuat Morgan Stanley untuk 20 pasar yang muncul.

 

Peningkatan ini berdasarkan hasil analisa pada Bursa Saham Tel Aviv dan akan meningkatkan rekomendasi bobot TASE pada portofolio investasi pasar yang muncul menjadi 3.5% dari 3%, yang sangat berarti dalam meningkatkan bobot Israel hampir sebesar 20%.


Reaksi Israel Atas Pidato Presdien Barak Obama di Kairo
(Click to enlarge)

Pemerintah Israel berharap pidato di Kairo ini akan menjadi periode baru bagi rekonsiliasi Arab dan dunia Muslim dan Israel.

 

Kami mendukung harapan Presiden Obama mengenai usaha Amerika memulai era baru yang akan mengakhiri konflik dan mengarahkan Arab untuk mengakui Israel sebagai tanahair bagi orang Yahudi, hidup dengan damai dan aman di Timur Tengah.

 

Israel berkomitmen pada perdamaian serta akan melakukan berbagai upaya untuk memperlebar lingkaran perdamaian ini dan juga melindungi kepentingannya, khususnya dalam hal keamanan nasional.

 


Kamar Dagang Baru Berharap Dapat Menciptakan Perdamaian Melalui Bisnis
(Click to enlarge)

Perdagangan Israel-Palestina mencapai NIS 15 miliar (sekitar US$ 4 miliar) di tahun 2008        

 

Banyak orang Israel mengerutkan alis saat mereka menyadari berapa jumlah perdagangan Israel dengan Otorita Palestina : Dari sejumlah NIS 15 miliar (sekitar 4 miliar US$) jumlah penjualan di tahun 2008, sekitar 13 miliar adalah ke Tepi Barat dan perkiraan sebesar NIS 2 miliar ke Jalur Gaza.

“Perusahaan Israel menjual jutaan dolar barang-barang ke Palestina,”ungkap Ofir Gendelman, Direktur Eksekutif Kamar Dagang Israel-Palestina yang baru.

“Kebanyakan produk yang dijual di pasar adalah buatan Israel. Persediaan barang di supermarket di Tepi Barat kebanyakan dari perusahaan Israel seperti Osem, Strauss dan Elite. Beberapa perusahaan Israel sangat tergantung pada pasar Palestina. Bagi orang Palestina, kebanyakan perdagangan adalah dengan Israel. Kedua pihak ini sudah saling tergantung.”

“Tugas kami adalah memfasilitasi perdagangan antara Israel dan Otorita Palestina – untuk membantu pebisbis Israel menemukan mitra Palestina,”tambahnya.

Ide untuk membentuk Kamar Dagang Israel-Palestina pertama kali didiskusikan 8 tahun yang lalu, namun seperti dikemukakan oleh Gendelman, yang fsih berbahasa Arab dan Inggris,”Selalu ada alasan politik yang menghambatnya.”

Kamar dagang ini akhirnya ditandatangani pada bulan Oktober tahun lalu, terdaftar sebagai organisasi nir laba swasta dengan dukungan 30 pebisnis handal Israel.

Melalui Proses inkubasi lima bulan

Ada proses inkubasi, yang dilaksanakan oleh Peres Center for Peace dan kemudian dikembangkan melalui kerjasama dengan Federation of Bi-National Chamber of Commerce dan dukungan dari Portland Trust. Para pendirinya termasuk mantan MK Dalia Rabin, puteri Yitzhak Rabin dan mantan kepala staf IDF AMnon Lipkin-Shahak.

Pada bulan Februari, Peres Center mengorganisir konferensi bisnis besar sebagai upaya mencapai IPCC : rangkaian rencana pertemuan yang pertama kali antara kelompok professional Israel dan Palestina.

Sekitar 60 pelaku bisnis dari kedua belah pihak telah menghadiri event ini, dari sektor impor, ekspor dan pengapalan. Para peserta termasuk perwakilan dari Ashdod Port Company, Bea Cukai dan Adminsitrasi Israel memungkinkan penjelasan untuk informasi pada hal-hal terkait.

Kamar dagang baru ini mulai beroperasi pada bulan Maret dan minggu lalu mengadakan jamuan makan malam peresmian di sebuah hotel di Tel Aviv, dihadiri tamu kehormatan termasuk Presiden Shimon Peres, dan kuartet yang berpengaruh di Timur Tengah, mantan PM Inggris Tony Blair dan istrinya Cherie, duta besar negara tetangga dan Palestina serta para pemimpin bisnis Israel.

Fungsi Kamar Dagang ini adalah sebagai pusat data bagi orang Israel yang tertarik untuk masuk ke pasar Palestina – artinya berfokus benar-benar pada pelaksanaan bisnis, dan tetap menjaga hubungan dekat dengan pemerintah pada bidang ekonomi, legalitas dan bisnis dalam rangka mengurangi hambatan perdagangan.

 


Pertemuan Presiden Peres dengan Presiden AS Obama di Gedung Putih
(Click to enlarge)

Presiden Shimon Peres mengadakan pertemuan resmi pada hari Selasa 5 Mei 2009 dengan Presiden AS, Barack Obama. Presiden Peres mendapat sambutan hangat dari Presiden Obama, “Sangat senang dapat berjumpa kembali dengan Anda – saya selalu menyukai pendapat-pendapat dan kebijaksanaan Anda, dan saya  berharap kita dapat sering bertemu di masa-masa mendatang.”

Perlu dicatat bahwa pertemuan ini diawali dengan pertemuan para penasehat kedua Presiden, yaitu Kepala Staf Kepresidenan Rahm Emmanuel, Penasehat Presiden David Axelrod, Jendral James Jones, Ketua Dewan Keamanan Nasional untuk Timur Tengah Dan Shapiro, Duta Besar Israel untuk AS Sallai Meridor dan para penasehat Presiden Peres. Dilanjutkan dengan permintaan Presiden Obama untuk melanjutkan pertemuan dengan Presiden Peres secara pribadi.

Kepada Presiden Peres, Presiden Obama menyampaikan bahwa, “Tantangan yang sedang kita hadapi sekarang ini, adalah juga merupakan kesempatan besar yang dapat mengarahkan kita pada kondisi yang lebih baik. Komitmen Amerika atas keamanan di Israel tidak dapat diragukan lagi, dan akan tetap berlangsung selama masa pemerintahan saya. Komitmen atas keamanan di Israel menjadi prioritas utama bagi Amerika Serikat.”

Presiden Obama menambahkan bahwa “Amerika adalah sahabat Israel” dan menambahkan “Saya berharap dapat segera bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu; Saya yakin kami dapat bekerjasama. Saya memahami hal terpenting yang menjadi pemikirannya sekarang adalah keamanan bagi warganegara Israel, sama pentingnya dengan keamanan warganegara Amerika bagi saya.”

Presiden Peres menjawab Presiden Obama: “ Kami memandang Anda sebagai sahabat sejati Israel, tanpa syarat, dan kami ucapkan selamat. Saya tekankan kembali apa yang telah saya sampaikan pada pertemuan sebelumnya di Israel : yang terbaik bagi Israel adalah dengan adanya Anda menjadi seorang Presiden AS yang besar, karena sekarang masalah yang dihadapi Israel adalah masalah yang mempengaruhi seluruh dunia – teror nuklir, pencegahan perang dan diskriminasi.

Berkenaan dengan upaya Iran pada persenjataan nuklir, Presiden Peres menyampaikan pada Presiden Obama, “Kami selalu mendukung pembicaraan dan menunjukkan perhatian melalui negosiasi – hal ini lebih diutamakan daripada perang dan kami harap ini akan berhasil dalam menghentikan Iran melanjutkan kegiatan nuklirnya. Namun kami tidak dapat menutup mata atas ancaman nuklir Iran. Kami tidak dapat mengulangi kesalahan yang sama yang menimbulkan ketakutan akan Holocaust pada dunia. Bila Eropa telah mengambil tindakan yang serius pada Hitler sejak awalnya, jutaan hidup manusia pasti telah terselamatkan. Iran adalah masalah dunia, namun secara khusus hal ini mengkhawatirkan kami karena latar belakang kami sebagai orang Yahudi.”